JATIM || Ketiknews.my.id - Di sebuah sore yang tenang di Surabaya, udara terasa lembut menyentuh kulit. Di sebuah aula sederhana, puluhan orang duduk dengan wajah penuh perhatian. Di depan mereka, berdiri seorang pria paruh baya dengan senyum teduh - Mas Setia. Dengan suara lembut dan tenang, ia mengajak semua yang hadir untuk merenung tentang satu hal yang sering terlupakan: bersyukur di setiap ujung kehidupan.
“Bersyukur itu bukan hanya ketika kita senang,” katanya. “Tapi juga ketika hidup terasa berat. Karena justru di situ, hati kita diuji untuk tetap tenang dan percaya.” Ucapannya menembus keheningan, membuat banyak mata mulai berkaca-kaca.
Mas Setia bukanlah orang yang lahir dari kemudahan. Dalam kisah hidupnya, ia pernah jatuh, kehilangan, bahkan hampir menyerah. Namun dari semua luka itu, ia belajar satu hal penting- bahwa hidup hanya akan terasa damai jika kita mampu menerima segala takdir dengan hati lapang. “Ketika sampai di ujung kehidupan,” ujarnya pelan, “bukan harta atau jabatan yang menemani kita. Hanya rasa syukur yang menenangkan hati.
Suasana di ruangan itu berubah hening, hanya terdengar suara napas dan isak pelan. Para hadirin seakan diajak untuk menatap diri sendiri apakah selama ini mereka sudah cukup bersyukur atas apa yang dimiliki.
Acara bertajuk “Syukur Sebelum Akhir” itu bukan sekadar pertemuan biasa. Lebih dari itu, ia menjadi ruang bagi siapa pun yang ingin kembali menemukan makna hidup. Di tengah dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan, pesan tentang syukur terasa seperti cahaya kecil yang menembus gelapnya hati.
Menjelang akhir acara, Mas Setia menatap para peserta dengan senyum tulus. “Kalau hari ini kita masih diberi napas, itu sudah alasan besar untuk bersyukur,” katanya. Kalimat sederhana itu terasa dalam, seperti doa yang menyelimuti semua yang hadir sore itu.
Reporter : Ihwan
